Selasa, 02 April 2013

puisi kehidupan


Hari hari lewat, pelan tapi pasti
Hari ini aku menuju satu puncak tangga yang baru
Karena aku akan membuka lembaran baru
Untuk sisa jatah umurku yang baru
Daun gugur satu-satu
Semua terjadi karena ijin Allah
Umurku bertambah satu-satu
Semua terjadi karena ijin Allah
Tapi…
 coba aku tengok kebelakang
Ternyata aku masih banyak berhutang
Ya, berhutang pada diriku
Karena ibadahku masih pas-pasan
Kuraba dahiku
Astagfirullah, sujudku masih jauh dari khusyuk
Kutimbang keinginanku….
Hmm… masih lebih
 besar duniawiku
Ya Allah
Akankah aku masih bertemu tanggal dan bulan yang
 sama di tahun depan?
Akankah aku masih merasakan rasa ini pada tanggal dan bulan yang
 sama di tahun depan?
Masihkah aku diberi kesempatan?
Ya Allah….
Tetes airmataku adalah tanda kelemahanku
Rasa sedih yang mendalam adalah penyesalanku
Astagfirullah…
Jika Engkau ijinkan hamba bertemu tahun depan
Ijinkan hambaMU ini, mulai hari ini lebih khusyuk dalam ibadah…
Timbangan dunia dan akhirat hamba seimbang…
Sehingga hamba bisa sempurna sebagai khalifahMu…
Hamba sangat ingin melihat wajahMu di sana…
Hamba sangat ingin melihat senyumMu di sana…
Ya Allah,
Ijikanlah

KETIKA KU BERTAHAN




Hasrat untuk pergi sudah mulai pupus
Hanyut bersama dengan hati yang terbungkus
Ku akan tetap bertahan demi buah hati
Berharap bahagia telah menanti

Sinar mentari terasa hangat membelai
Memberikan harapan yang pernah terbengkalai
Ketika ku berusaha untuk bertahan
Jangan palingkan wajah dengan tertahan

Hati terasa was-was dan kwatir
Apa pertanda akan adanya petir
Berlindung didalam naungan atap yang masih terbuka
Semoga terjaga dari kegalauan meskipun agak terasa

Jangan kau abaikan apa yang ku ucap
Itu adalah kenyataan yang tertancap
Perasaan yang masih belum sempurna
Dekaplah supaya tidak sirna

SEDIH




Termenung sendiri
dengan kesedihan yang tak henti henti
ku hanya pilih sebuah jalan 
yakni merenung sendiri tanpa teman

Perih hatiku rasakan
sedih hatiku menangis
menangis tersedu sedu tanpa suara

walaupun ini cukup menyakitkan hati
tapi ku tak ingin menyakitimu
meski, semua sakit ini berawal darimu
kupendam dalam dalam sakit ini dalam hati
ku kubur semuanya tanpa kubagi
pada semua sahabat sejati

Dalam puisi,
ku hanya merenungi sebuah kisah
hanya ini yang bisa kulakukan 
tuk sedikit sedikit melupakan perih ini .

CAHAYA HARAPANKU




Aku berjalan di kegelapan
sendiri bingung tersesat
di penghujung harapan
ku temui sebercak cahaya

Ku hampiri cahaya itu
berlari bah tak tahan ku bertemu
cahaya pengharapanku
sosok tubuh yang kudapati

Dia benar-benar cahaya
penuntun jalan gelapku
namun ku terhenti
ada yang ingin mengambil harapanku

Apalah daya ku perbuat
sesal ..tangis ..tertimbun dihati
harapanku berarah kejalan lain
tinggal aku sendiri disini

Aku berjalan di kegelapan
sendiri ..sendiri ..sendiri..
biarlah..
semoga ku bertemu harapanku lagi di persimpangan jalan

CINTA BISU




Terlalu munafik jika mengatakan tidak
Tapi terlalu malu untuk mengatakan iya
Kebohongan-kebohongan hati yang terjadi
Terasa begitu saru tanpa pernah disadari

Terlalu takut akan kehilangan
Namun tak ada kejujuran kata yang mampu menyatukan kita
Luka hati karna goresan-goresan kebohongan hati sudah kering dimakan waktu
Sampai, air mata ini terasa habis karna mengariri kehausan hati

Sadarkah kau,
Kau dan aku bagai tifa yang kehilangan pemainnya
Terlalu sunyi saat kita berjauhan
Suara merdu terasa tabu saat kau dan aku tak bersama dalam satu irama yang benar

Tapi nyatanya?
Ternyata hanya aku yang terlunta-lunta menunggu
Menunggu cinta merah jambu yang tak tersampaikan
Dari bibirmu